Dokter Laser dengan 30 Paten Internasional
Doktor Laser dengan 30 Paten Internasional
Mereka adalah para peneliti yang telah menghasilkan karya bermanfaat
bagi masyarakat, dan diakui dunia internasional. Sayang, perhatian
negara untuk mereka terkesan kurang.
-----------
Salah satu peneliti itu adalah Dr Bambang Widiatmoko M.Eng. Pria 47
tahun itu menemukan alat yang bisa mencacah sinar laser. Bisa
dibayangkan rumitnya, bagaimana sebuah sinar, apalagi sinar laser,
dapat dicacah menggunakan alat temuan Bambang.
Temuan tersebut dinamakan Optical Frequency Comb Generator (OFCG),
yakni pembangkit sisiran frekuensi optik.
Ini alat pencacah sinar laser yang lazim digunakan di perusahaan
berbasis fiber optic. Temuannya itu juga telah dipakai berbagai
industri komunikasi di Jepang.
Berkat temuannya tersebut, akhir November tahun lalu Bambang diberi
penghargaan berupa medali dari The Habibie Center (THC), yayasan yang
bergerak di bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi. Bambang dinilai sangat berjasa sebagai
peneliti teknologi, khususnya ilmu rekayasa.
Peran Bambang dalam ilmu perekayasaan memang cukup banyak. Apalagi,
dalam penelitian sinar laser. Di mancanegara, Bambang dikenal sebagai
pakar laser. Dia mengaku kerap dikontak para peneliti asing yang
mengembangkan penelitian tentang laser.
Selama 13 tahun belajar di Tokyo Institute of Technology, Jepang,
untuk program S-2 hingga doktor, pria kelahiran Boyolali itu
mencatatkan 30 paten di Negeri Sakura tersebut. Kebanyakan berbasis
laser. "Sebagian temuan saya juga saya daftarkan ke Amerika Serikat
dan Eropa. Selain itu, masih ada temuan saya yang belum dipatenkan,"
katanya. Karya terbesar Bambang adalah OFCG.
Menurut Bambang, dulu para peneliti sama sekali tak terpikir bagaimana
mencacah sinar laser menjadi ribuan sinar baru. Sebab, memecah sinar
adalah pekerjaan sulit. Bila satu sinar yang dipancarkan butuh satu
transmitor, kalau memancarkan banyak sinar, tentu juga butuh banyak
transmitor. "Dulu alat-alat yang dibutuhkan untuk memancarkan itu bisa
sebesar ruangan ini," ungkap Bambang sambil merentangkan tangan
menunjuk luasnya ruangan sekitar 16 meter persegi itu.
Dia menggambarkan, betapa ribetnya mencacah sinar laser saat itu. Alat
itu, lanjut Bambang, dibikin pada 2000, saat dia baru lulus doktor.
Bambang pun mencoba berinovasi. Empat tahun berselang, berkat
ketekunannya, Bambang berhasil menciptakan alat pencacah sinar laser
yang hanya sebesar jari kelingking. Ini sebagai produk dasar. Dua
tahun lalu dia menyempurnakan temuannya agar bisa diproduksi secara
masal. Di tangan bapak dua anak itu, pemancar sinar tersebut
disempurnakan dan ukurannya menjadi sebesar kotak P3K.
Bambang mengaku, temuannya itu terinspirasi oleh tiga peraih nobel
fisika 2005. Mereka adalah Roy J. Gluber, peneliti Harvard University;
John L. Hall, peneliti University of Colorado, dan Theodor W. Hansch,
fisikawan Max Planck Institut fur Quantenoptik Garching, Jerman. Dua
nama terakhir merupakan karib Bambang dalam melaksanakan riset-riset
fisika. ''Rekayasa pencacah laser ini satu-satunya di dunia. Di
Indonesia belum terpikir pemanfaatan alat tersebut," ungkapnya.
Ketika masih di Jepang, Bambang memproduksi masal alat ciptannya
tersebut. Bahkan, dia juga mendirikan perusahaan ventura bernama
Optocomb. Bambang menggandeng dua sahabatnya. Alat yang dipasarkan itu
berseri BK625SM. BK merupakan gabungan inisial Bambang (B) dan Kourogi
(K). Kourogi adalah karib Bambang di Jepang. ''Dulu saya sebagai
perekayasa sekaligus pemasarnya," jelasnya. Di perusahaan itu Bambang
menjadi direktur.
Meskipun banyak uang mengucur ke kantongnya, pembawaan Bambang tetap
sederhana. Dia tetap menyadari bahwa penelitian adalah fondasi
hidupnya. Setelah balik ke tanah air tiga tahun lalu dan bekerja di
laboratorium LIPI Serpong, Bambang perlahan melepaskan perusahaannya
di Jepang.
"Sekarang perusahaan itu sudah amat berkembang. Saya sudah lepas dari
perusahaan. Tapi, kalau mau main-main ke Jepang tinggal kontak. Semua
sudah disiapkan," ujarnya.
Bambang mengaku amat terinspirasi dengan budaya orang Jepang. "Di
Jepang itu banyak lab yang berdiri di ruko-ruko. Budaya penelitian di
sana amat tinggi. Kalau di sini hanya pintar jual," jelasnya.
Bambang pernah juga menghasilkan karya besar lain, yakni pendeteksi
tsunami berbasis laser. "Alat buatan saya itu kini sudah dimanfaatkan
di Jepang. Ditanam di dasar laut perairan Jepang. Prinsipnya, begitu
tanda-tanda tsunami muncul, alat yang ditanam tadi akan mengirimkan
informasi sinar laser ke stasiun di pinggir pantai," paparnya. "Tapi,
temuan saya itu tak direspons di sini," katanya.
Temuan Hafnan Dipakai Desainer Diesel Dunia
Nama Dr Ir M. Hafnan M Eng sempat mencuat ke permukaan sebagai penemu
zat aditif yang bisa mengawinkan air dengan solar sehingga
menghasilkan solar yang lebih ramah lingkungan dan lebih hemat. Temuan
Hafnan itu dinamakan solar hijau. Ternyata, bukan itu saja temuan Hafnan.
Ketika pulang ke Indonesia, setelah 10 tahun menempuh pendidikan di
Ritsumeikan University Kyoto, Jepang, sejak 1989, Hafnan membawa
sejumlah temuannya. Di antaranya solar hijau dan kompor jarak. Namun,
dia tidak menganggap dua temuan teknologi aplikatif itu istimewa.
Hafnan cenderung antusias untuk mengemukakan temuannya yang diakui
dunia, yakni angka konduktivitas dan angka difusivitas deposit di
dalam ruang bakar mesin diesel.
Dalam bahasa awam, angka temuan pria 49 tahun tersebut dipakai untuk
standar internasional dalam menghitung perpindahan panas di dalam
ruang bakar yang diperlukan untuk mendesain mesin. Artinya, dengan
angka-angka itu, orang akan lebih mudah menghitung distribusi panas
dan bisa mengukur tingkat optimalitas mesin. ''Angka ini seperti
ditemukan B.J. Habibie. Saya temukan angka tersebut pada 1995 ketika
melakukan penelitian di Jepang.'' kata pakar combustion (ahli
pembakaran mesin) yang juga ketua Pusat Studi Teknologi Industri Tepat
Guna (PS-TITG) di Universitas Trisakti, Jakarta, tersebut.
''Sampai saat ini, angka temuan saya itu dipakai desainer mesin diesel
di seluruh dunia,'' ujarnya bangga.
Lalu, bagaimana tanggapan pemerintah terhadap temuan berkelas dunia
itu? Jawabannya biasa saja. Hafnan mengaku sangat mafhum dengan reaksi
tersebut. Sebab, layaknya negara berkembang kebanyakan, publik
Indonesia masih cenderung haus akan temuan teknologi tepat guna yang
manfaatnya bisa langsung dirasakan banyak orang. Praktis, temuan yang
merupakan hasil kerja kerasnya selama hampir enam tahun itu seakan
disambut dengan bertepuk sebelah tangan. (git/fal/zul/ kum)
Visitors :12680 Org
Hits : 42098 hits
Month : 321 Users